Jumat, 03 Juni 2011

MENTOR

Sejak pertama kali mengikuti seminar dan -meminjam istilah Jaya Setiabudi- "dibukakan Cakra Pengusahanya", saya mulai sadar pentingnya arti mentor ( pembimbing) dalam hal apapun untuk meraih kesuksesan.

Mentor adalah jalan singkat / shortcut menuju sukses. Dengan mengikuti pola mentor, kita bisa menghindari kemungkinan gagal karena trial and error. Karena sukses dan gagal itu ada polanya. Jadi kita tinggal mengikuti saja pola para mentor yang telah sukses.

Saya mengagumi semua orang yang lebih sukses dan ingin belajar langsung kepada mereka ilmu tentang sukses. Istimewanya, entah karena Law of Attraction, hampir semua mentor yang awalnya saya kagumi lewat buku, internet, seminar dll akhirnya bisa "mengenal" saya.

Kata "mengenal" tadi sengaja saya bold karena pentingnya kita dikenal oleh seseorang dan seberapa pengaruhnya ketika kita dikenal. Pernah dengar ungkapan "Anda lima tahun yang akan datang tergantung apa yang anda baca, tonton dan siapa yang kenal anda".

Tanpa bermaksud menyombongkan diri, saya akan tuliskan daftar para mentor yang akhirnya mengenal dan mengingat saya :)

  1. Ippho Santosa. Awalnya saya hanya mengenal dari buku 13 Wasiat Terlarang yang ditulisnya. Saat ini buku karangan saya "Ternyata Sedekah Nggak Harus Ikhlas" sudah beredar di Gramedia, cetakan ke-3 berkat dorongan beliau. Tidak hanya itu, di buku Ippho Santosa "Percepatan Rezeki" testimoni saya tentang buku "7 Keajaiban Rezeki juga dimuat.
  2. Tung Desem Waringin. Siapa tidak kenal tokoh dahsyat satu ini? Saya pertama ikut Financial Revolutionnya dan mendapat banyak pencarahan. Sekarang, beliau juga bersedia membubuhkan testimoni di sampul buku saya tsb. Saya juga sudah 2 kali mengorganize seminarnya di Pekanbaru - Riau
  3. Jaya Setiabudi. Selain pernah mengorganize seminarnya di Pekanbaru, saya juga mengambil lisensi Entrepreneur Camp. Mas J ( begitu dia lebih sering dipanggil ) termasuk mentor yang rendah hati. Sering BBM saya hanya sekedar memberi referensi judul film yang bagus dan layak tonton.
  4. Roni Yuzirman. Mungkin anda akan mengerutkan dahi mendengar nama ini. Tapi di kalangan entrepreneur, nama ini sangat populer. Maklumlah beliau adalah Founder Komunitas Tangan Di Atas. Salah satu komunitas entrepreneur terbesar di Indonesia.
  5. Purdi E Chandra. Presdir Primagama Group inilah yang pertama kali membuat saya memutuskan menceburkan diri ke dunia wirausaha. Mentor dari beberapa mentor saya. Tampilannya memang sedikit nyeleneh dengan konsep "Otak Kanan"nya mampu menjungkirbalikkan kebanggan seorang karyawan. Beliau beberapa kali membantu donasi kegiatan sosial yang kami buat.
Selain 5 tokoh diatas, ada beberapa orang lagi yang kenal dengan saya seperti : Mas Mono ( owner Ayam Bakar Mas Mono ), Rangga Umara ( owner Pecel Lele- Lela ), Prasetya M Brata dan lain lain.

Perlahan, secara bertahap saya ingin dikenal lebih banyak lagi oleh mentor- mentor yang saya idolakan. Dan saya tahu persis sedang menuju ke arah sana :)

Jadi Entrepreneur, Hanya Tinggal Melangkah

Sejak bulan Maret tahun 2009 saya memutuskan untuk resign dari perusahaan tempat saya bekerja.

Berawal dari secara tidak sengaja mengikuti seminar entrepreneur oleh Purdi E Chandra, pikiran saya mulai terusik dengan beberapa gagasan keuntungan menjadi seorang entrepreneur dibandingkan karyawan.

Oke, saya akui bahwa setelah mengikuti seminar itu, semalaman saya nggak bisa tidur memikirkan isi seminarnya. Yang paling mengganggu adalah saya tersadarkan bahwa gaji yang saya dapatkan di kantor itu sebenarnya bisa dengan mudah saya dapatkan di luar sana tanpa harus bekerja dari pagi sampai sore, bahkan sampai harus lembur segala.

Contohnya seperti ini. Misalnya gaji di kantor saya sekitar 3 jutaan per bulan. Itu sudah termasuk semuanya. Bonus, uang makan, kendaraan, THR dll dalam setahun saya jumlahkan kemudian bagi rata 12 bulan. Nah, angka 3 juta itu ketika dibagi 30 hari dan dibagi 10 jam kerja sehari, ternyata saya cuma dibayar Rp.10.000,-/ Jam. Saya ulangi sodara-sodara. SEPULUH RIBU RUPIAH SETIAP JAM!

Padahal kalau saja saya mau menghabiskan setiap jam untuk menjual produk misalnya buku atau baju, dengan margin kotor 20-30%, pastilah keuntungan saya bisa bisa lebih dari 10.000/jam. Dan itu perkara mudah. Tentu saja, bukankah saya bisa menjual produk kantor saya senilai ratusan juta rupiah tiap bulan? Psst, saya memang sudah buktikan, nanti lebih lanjut akan saya ceritakan.

Singkat kata saya memutuskan untuk resign dari kantor. Apalagi setelah membaca buku "The Power Of Kepepet" karangan Jaya Setiabudi. Bulat sudah tekad untuk resign dan langsung membuka sebuah usaha yaitu menjual produk Selimut Jepang, yang akan menjadi sebuah cerita manis, pahit, sepat tersendiri karena pabriknya tiba-tiba tutup ketika usaha saya itu baru menuai laba besar.

Tutupnya pabrik selimut itu membuat saya terpaksa berpikir keras mencari usaha lain supaya dapur tetap ngebul. Akhirnya sebuah warung makanpun berdiri walaupun juga sukses tutup setelah 6 bulan kemudian.

Dua kali bisnis yang saya buka bangkrut dalam waktu berdekatan membuat saya trauma dan takut untuk melangkah. Selama beberapa bulan, saya menyambung hidup dengan berjualan buku online. Walaupun hasilnya tetap jauh lebih besar dari gaji saya waktu bekerja dulu (pernah dalam 1 hari berjualan buku saya mendapat laba sampai 1 juta lebih), tapi saya merasa resah. "Ini bukannya jadi Entrepreneur seperti yang saya harapkan" pikir saya.

Akhirnya, bersama seorang teman saya memutuskan untuk berkecimpung di dunia Event Organizer. Sebagai pembeda, EO kami bergerak di event seminar Entrepreneur dengan mengundang pembicara seperti Tung Desem Waringin, Ippho Santosa, Jaya Setiabudi dan Purdi E Chandra. Kami juga mengambil lisensi Entrepreneur Camp, sebuah training yang mencetak entrepreneur di Pekanbaru dan sekitarnya.

Kini, saya sedang merintis usaha distro pakaian, perlengkapan tidur dan desain percetakan yang khusus menangani sarana promosi bisnis.

Yah, menjadi entrepreneur memang hanya tinggal melangkah. Pilihannya apakah anda mau melangkahkan kaki di jalan itu. :)