Sabtu, 20 Desember 2008

"Kadang kita lupa......"

Kita bisa sentuh dasar kepedihan, dan tahu orang lain memahaminya.

Kita sering dibuai kesedihan dan kadang tak ada yang memakluminya

Kita sering mengambil keputusan yang tepat di kekinian, namun salah di masa depan

Kita tak pernah lepas dari jeratan nasib dan kadang terkungkung dalam kemalangan tak tertahankan

Dan kita sering hanyut di gelombang kehidupan tanpa bisa memahami arti hidup

Kita adalah diri sendiri, meski kadang kita lupa


Jum’at 04/04/2003

Pukul 21:30 WIB

Hujan Lagi Malam Ini

Perlahan awan hitam berarak

Menutupi cahaya Bintang-bintang diluar sana

Tetes hujan satu- satu berubah menjadi badai

Aku masuk kembali ke kamarku dengan lesu

Seperti kemarin malam, ceritaku terputus

Aku harus cerita kepada siapa lagi.?

………

Perlahan badai mereda

Dan hujan tinggal satu-satu

Tapi Bintang enggan muncul kembali

Aku kecewa…


Kamis, 03/04/2003

Pukul 22:15 WIB

Matahari, Rembulan dan Lamunanku

Aku sedang mengagumi Rembulan malam ini, sama seperti malam-malam biasanya, tiba-tiba waktu berputar dengan cepat seperti satu helaan nafas. Rembulan tenggelam dan Matahari tepat berada diatas kepalaku dan Matahari berkata padaku : “Aku bosan melihat dirimu yang selalu mengagumi Rembulan pucat itu.. Bukankah aku lebih pantas untuk dikagumi ? Aku lebih terang, sinarku mampu memberi cahaya bagi kehidupan bumi. Aku seperti tak tercela,cahayaku menyeluruh pada semua sisi diriku. Aku yang memberi sedikit cahayaku untuk Rembulan”

“Lihatlah Rembulan yang terlihat penuh kebohongan itu, dia selalu menyembunyikan sisi gelapnya darimu. Dia hanya penuh pada sehari dan tidak sempurna di hari lainnya bahkan kadang dia tidak menunjukkan dirinya sama sekali”

Aku tidak tahu apakah matahari hanya mengujiku atau dia benar-benar membenci Rembulan. Aku diam sejenak,menundukkan wajahku pada Bumi yang tadinya gelap sekarang terang benderang oleh cahaya Matahari. Lalu aku sedikit tengadah dan berlahan kujawab :

“Aku tidak membencimu. Wahai Perkasa. Memang kau begitu sempurna dan kuat, tapi justru karena kesempurnaanmu aku tak sanggup untuk mengagumimu. Aku tidak sanggup memandang dirimu karena sinarmu membakar mataku, aku hanya dapat mengagumimu saat kamu beranjak ke tempat peristirahatanmu atau saat kabut menyelimuti dirimu.

Barkanlah aku tetap memandang Rembulan yang tidak selalu sempurna, karena seperti diriku, mungkin dia malu dengan sisi gelapnya saat seisi bumi memandangnya. Mungkin dia seperti diriku ; hanya bisa memberi sedikit cahayanya setelah dia menerima darimu. Tapi aku yakin dia memberi semua yang tersisa darinya setelah cahayamu memberinya kekuatan untuk selalu berusaha setia pada malam”

“Kamu mengganggu lamunanku, perkasa.. tinggalkanlah aku dan biarkanlah aku ditemani oleh Rembulan redup tadi”

Satu helaan nafas kemudian, tiba-tiba Bumi gelap kembali , Matahari lenyap dan Rembulan ada di tempatnya semula. Aku tersenyum dan sekilas kulihat Rembulan membalas senyumanku. Lalu aku kembali bercerita pada Purnama, cerita yang sama seperti malam sebelumnya cerita tentang Kekasihku.

Rabu, 02/04/2003

Pukul 01:05 WIB

"Gerbang"

Teman, sampai kapan kita akan terus menapaki jalan-jalan disini ? Lihatlah senja sudah mulai menutupkan cadar gelap di sisi lembah sebelah sana..

Marilah sejenak kita berhenti , perjalanan ini membuat kakiku terasa lelah dan tubuhku serasa dibebani.

Marilah, mari duduk di dekatku. Saksikanlah insahnya cahaya matahari saat tenggelam ini. Bagai sebuah lukisan yang dikanvaskan oleh Sang Maha Pencipta. Nikmailah indahnya, karena sesaat lagi kita akan dihadapkan pada keindahan yang lain, keindahan malam saat bintang-bintang menghiasi pada gelapnya.

Jangan kamu katakan kalau kamu takut kalau gelap melingkupi kita. Bukankah hanya di gelap malamlah kita bisa menikmati purnama dan di gelap malam pula bintang-bintang bisa memberi untaian cahayanya.

Sekarang, marilah kita mulai perbincangan kita ; “Masihkah kamu ingat apa yang kita temui di sepanjang perjalanan kita tadi.? Apakah kamu menikmati warna-warna cerah dan menghirup wangi bunga di sepanjang sisi jalan setapak tadi.? Ataukah kamu hanya terpaku pada tujuan perjalanan kita dan mengabaikan semua keindahan tadi?

Aku percaya,teman.. kamu pasti juga memperhatikan semua yang menarik perhatianku, sebab rona wajahmu terlihat begitu mengaguminya. Tapi,teman.. mengapa tadi langkahmu begitu cepat dan tergesa? Apakah kamu ingin segera beristirahat di puncak bukit itu atau kamu penasaran dan tak sabar untuk melihat keindahan yang lain?

Atau,apakah kamu merasa jenuh dengan teman seperjalanan sepertiku?

Tahukah teman, aku begitu menikmati perjalanan tadi, meski bunga dan pemandangan di sisi lembah begitu mempesonakanku, tapi aku lebih memilih untuk mencuri pandang pada keindahan yang kamu miliki, pada sinar matamu yang teduh. Senyummu yang menepikan semua letihku dan wangi yang melintasi semua anganku saat angin meniup lembut kearahku. Meski saat ini kakiku terasa sakit dan letih karena mengiringi langkahmu yang tergesa, aku cukup bahagia meski hanya memegang ujung terjauh pakaianmu.

Memang,teman.. kamu adalah teman perjalanan yang menyenangkan. Meski mungkin tujuan yang kita tempuh berbeda. Aku hanya ingin sekali mencapai gerbang indah di puncak bukit itu…. Hanya gerbang.!

Tapi saat kamu mengatakan akan memasuki taman di dalamnya , aku sadar tujuan kita tidak sama. Kuakui,aku juga ingin sekali masuk ke taman indah itu, tapi aku khawatir pijakan kakiku mungkin akan merusak bunga-bunga di taman itu. Sedangkan kamu.? Kakimu akan dibasuh dengan ramah oleh tetes embun yang sembunyi di rerumputan hijau itu dan kamu akan dipapah oleh sayap-sayap tidak terlihat diantara ranting pohon taman itu untuk kemudian dimahkotai oleh kelopak-kelopak bunga yang indah.

Kalau aku tetap memaksakan diri untuk masuk ke taman itu, rerumputan itu mungkin ‘kan berubah menjadi semak berduri tajam dan akan merobek telapak kakiku, bahkan sayap-sayapku akan dipatahkan dan tubuhku akan dihempaskan ke jantung bumi.

Mungkin aku terlalu banyak berkeluh kepadamu, teman.. Baiklah, aku akan diam, mungkin akan banyak cerita yang kusampaikan padamu dalam kebisuanku.

Sekarang, marilah kita beranjak tidur karena cadar malam sudah sempurna menutupi wajah bumi. Sebelum matamu terpejam,pandangilah sejenak purnama yang bersinar lembut dan untaian bintang yang bercahaya laksana jutaan kunang-kunang.

Istirahatlah untuk memulihkan kekuatanmu, esok..saat fajar menyingsing di ufuk timur, kita akan lanjutkan perjalanan. Tapi aku hanya menemanimu sampai gerbang itu saja.

Hanya sampai gerbang..!

Rabu, 02/04/2003

Pukul 00:11 WIB